Mengapa Ancaman dari Dalam (Insider Threat) Adalah Risiko Terbesar bagi Perlindungan Data Pribadi Perusahaan

mengapa-ancaman-dari-dalam-insider-threat-risiko-terbesar

Ancaman dari dalam (insider threat) merupakan salah satu risiko terbesar dalam perlindungan data pribadi perusahaan. Ancaman ini berasal dari internal yang memiliki akses ke sistem perusahaan. Baik disengaja atau tidak, mereka dapat menyebabkan kebocoran data sensitif yang berakibat signifikan pada reputasi dan operasional perusahaan. Motif di balik ancaman ini bisa beragam, mulai dari ketidakpuasan kerja, kesalahan manusia, hingga keuntungan finansial. Tantangannya, aktivitas dari pelaku internal sering kali sulit dideteksi karena akses mereka bersifat sah, sehingga penyalahgunaan bisa terjadi tanpa disadari. 

Salah satu kasus insider threat yang terjadi di Indonesia melibatkan kebocoran data BPJS Kesehatan pada tahun 2021. Dalam kasus ini, data pribadi sekitar 279 juta warga Indonesia bocor dan dijual secara ilegal di forum online. Ada indikasi bahwa pelanggaran tersebut mungkin melibatkan pihak internal atau individu yang memiliki akses sah ke sistem. Kasus ini mengungkap kelemahan dalam sistem pengamanan data internal yang dimiliki oleh BPJS Kesehatan, terutama terkait kontrol akses dan pemantauan aktivitas orang dalam. Selain itu, kebocoran data e-HAC pada sistem pelacakan COVID-19 juga memperlihatkan potensi ancaman dari dalam, di mana data pribadi pengguna bocor karena pengelolaan akses internal yang lemah. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa ancaman dari dalam bisa berasal dari kelalaian atau kesengajaan pihak internal yang memiliki hak akses. 

Untuk menghadapi risiko insider threat, perusahaan perlu menerapkan strategi keamanan yang komprehensif. Berikut adalah beberapa cara yang bisa diambil: 

1. Batasi Akses Berdasarkan Kebutuhan 

Memberikan akses data penting kepada internal yang memiliki kebutuhan khusus dalam keamanan data. Prinsip ini disebut least privilege—semakin sedikit orang yang bisa mengakses data sensitif, semakin kecil kemungkinan terjadi penyalahgunaan. 

2. Gunakan Otentikasi Berlapis 

Tambahkan langkah-langkah keamanan ekstra seperti autentikasi multi-faktor (MFA). Ini memastikan bahwa meskipun password bocor, karyawan masih harus melewati lapisan verifikasi tambahan, seperti kode yang dikirim ke ponsel. 

3. Pantau Aktivitas Karyawan 

Buat sistem untuk memantau aktivitas karyawan di jaringan perusahaan secara real-time. Jika ada perilaku aneh atau mencurigakan, seperti karyawan mengakses data yang tidak sesuai dengan tugas mereka, sistem ini bisa segera mendeteksinya. 

4. Menerapkan Regulasi yang Bersetandarisasi 

Menerapkan regulasi yang bersetandarisasi berarti mengadopsi aturan dan pedoman yang telah ditetapkan untuk memastikan konsistensi, keamanan, dan kualitas dalam suatu proses atau perusahaan. Dalam Penerapan regulasi dan memastikan konsistensi keamanan Alpha Citra Siber Indonesia (ACSI) hadir sebagai solusi dan konsultasi dalam keamanan siber.  

Dalam penerapan regulasi yeng berstandarisasi, Perusahaan perlu merencanakan dan menginvestasikan keamanan perusahaan salah satunya dengan sertifikasi ISO 27001. Penerapan dalam sertifikasi ISO 27001 adalah melakukan audit keamanan yang rutin untuk memeriksa dan memastikan akses ke data sensitif. Penerapan audit keamanan ini penting saat ada perubahan karyawan atau reorganisasi, sehingga akses yang tidak perlu dapat dihapus segera. 

Jangan biarkan ancaman dari dalam menghancurkan bisnis Anda! ACSI hadir dengan solusi keamanan siber canggih yang dirancang khusus untuk mendeteksi dan mencegah ancaman internal sebelum mereka merugikan perusahaan Anda. Lindungi data sensitif dan reputasi perusahaan dengan perlindungan berlapis dari ACSI. Kini saatnya bertindak—jangan tunggu sampai terlambat! 

Untuk info lebih lajut mengenai kebutuhan services / solution : https://linktr.ee/AsabaInnotech 

Email : marketingacsi@cyberacsi.com  

Whatsapp: 085174467329  

Instagram : @cyberacsi  

No. Kantor : 021-57994700 

Website ACSI : www.cyberacsi.com